Gender dan Kekerasan Terhadap Perempuan*)

Kekerasan terhadap perempuan, termasuk yang terjadi dalam rumah tangga, sebagaimana dinyatakan dalam deklarasi penghapusan kekerasan terhadap perempuan merupakan manifestasi posisi subordinasi perempuan di hadapan laki-laki. Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan disinyalir sebagai akar terjadinya kekerasan terhadap perempuan, sehingga kekerasan terhadap perempuan disebut pula sebagai “kekerasan berbasis gender”[1] atau “kekerasan terhadap perempuan berbasis gender” (KTPBG). Dengan demikian pemahaman mengenai konsep gender dan relasinya terhadap kekerasan terhadap perempuan sangatlah penting untuk diketahui.Secara bahasa kata gender dalam bahasa Inggris berarti “jenis kelamin.”[2] Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.”[3]

Secara istilah, kata gender memiliki makna yang berbeda dengan jenis kelamin, bahkan dilawankan dengan jenis kelamin (sex). Seks atau jenis kelamin merupakan pembedaan atau pensifatan dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis.[4] Misalnya, laki-laki adalah jenis kelamin bagi manusia yang bersifat atau memiliki penis, jakun (jakala / kala menjing), memproduksi sperma. Sedangkan perempuan adalah jenis kelamin bagi manusia yang bersifat atau memiliki alat reproduksi seperti rahim, saluran untuk melahirkan, memproduksi sel telur, vagina, dan payudara yang berfungsi menyusui. Dengan demikian seks (sex) merupakan pembedaan laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, organ dan fungsi reproduksi, dan karakter biologis lainnya. Ciri-ciri tersebut melekat pada diri laki-laki atau perempuan secara permanen, bersifat biologis, diperoleh sejak lahir atau kodrati, tidak bisa dirubah atau dipetukarkan, bersifat universal dalam artian laki-laki atau perempuan di manapun memiliki atribut biologis yang sama,[5]

Sedangkan konsep gender dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan sebagai konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.[6] Pengertian gender ini juga meliputi harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan maupun ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan.[7] Adapun gender menurut Mansour Fakih adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki atau perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.[8] Pengertian serupa juga disampaikan oleh Nasarudin Umar yang mengartikan gender sebagai suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi social budaya.[9]

Berdasarkan berbagai pengertian di atas gender dapat diartikan sebagai suatu sifat, peran, perilaku, mentalitas, maupun karakteristik emosional yang dimiliki atau dilekakan pada laki-laki dan pada perempuan yang terbentuk secara social maupun kultural. Termasuk dalam pengertian gender ini adalah harapan-harapan dan ketetapan-ketetapan budaya yang dilekatkan pada diri laki-laki ataupun perempuan.

Perbedaan gender tersebut menjadi masalah, manakala melahirkan ketidakadilan gender dalam masyarakat. Ketidakadilan gender tersebut dapat terjadi apabila; ada kesempatan yang berbeda, akses yang berbeda atas informasi dan kesempatan, kontrol yang tidak sama atas sesuatu, perbedaan atas penggunaan atau pemanfaatan sesuatu, partisipasi yang timpang, serta dominasi salah satu pihak atas pihak yang lain, antara laki-laki dan perempuan.

Menurut Mansour Fakih dalam bukunya “Analisis Gender dan Transformasi Sosial” ketidakadilan gender terhadap perempuan tersebut termanifestasikan dalam pelbagai bentuk ketidakadilan, yaitu;[10]

  • Marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi
  • Subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik
  • Pembentukan stereotype atau melalui pelabelan negatif
  • Beban kerja lebih banyak atau lebih panjang
  • Kekerasan terhadp perempuan

*) Oleh : Saeroni, saat ini aktif di Rifka Annisa dan Aliansi Laki-laki Baru

[1] Heise, Lori, et al., 1999, Op. Cit., Hlm. 1

[2] Echols, John M. and Hassan Shadily, 1983, Kamus Inggris Indonesia. Gramedia, Jakarta. Hlm. 265

[3] Umar, Nasaruddin, 2001, Argumen Kesetaraan Jender: Perspektif Al-Qur’an. Paramadina, Jakarta. Hlm. 33

[4] Fakih, Mansour, 1997, Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Pustaka Pelajar, Yogyakarta; ibid. Hlm. 8

[5]     Soeroso, Moerti Hadiati, 2011, Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Dalam Perspektif Yuridis-Viktimologis. Sinar Grafika, Jakarta. Hlm. 14-17; Fakih, Mansour, 1997, Op. Cit., hlm. 7; Umar, Nasaruddin, 2001, Op. Cit. hlm. 35-36

[6]     Umar, Nasaruddin, 2001, Op. Cit., hlm. 33-34

[7]     Lihat pandangan Hilary M. Lips dalam bukunya Sex & Gender: an Introduction dan Linda L. Lindsey dalam bukunya Gender Roles: a Sociological Perspective, sebagaimana dikutip oleh Nazarudin Umar dalam ibid. hlm. 34

[8]     Fakih, Mansour, 1997, Op. Cit., hlm. 8

[9]     Umar, Nasaruddin, 2001, Op. Cit., hlm. 35

[10]   Fakih, Mansour, 1997, Op. Cit., Hlm. 12-23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s