Istimewa

Rekonstruksi Metodologi Tarfisr Al-Qur’an Yang Adil Gender

Menurut Al Jabiri, tafsir Islam klasik ditandai oleh sikap pemikiran yang selalu berorientasi pada otoritas teks, merujuk pada masa lalu, ijma’ dan qiyas. Sikap pemikiran ini telah melahirkan pemahaman keagamaan yang bias gender dan diskriminatif terhadap peran perempuan. Penekanan yang berlebihan terhadap tekstualitas al-Qur’an, dengan membaca teks secara literal, makna nash diambil hanya berdsar pada pertimbangan bunyi nash, tanpa merujuk pada situasi sosial-politik-budaya yang melatarinya atau menjadi alasan keberadaan (raison d’etre) nash itu, telah berakibat pada pemahaman nash yang asosial dan ahistoris.

Sikap pemikiran di atas, yang berdasarkan pada pembacaan literal teks, dianggap sebagai syarat kesahihan wacana agama. Ulumul Qur’an dan Ushul Fiqh, sebagai cabang ilmu yang sangat berpengaruh terhadap penafsiran al-Qur’an, dibangun atas dasar sikap pemikiran yang berpusat pada teks. Misalnya konsep al-ibratu bu ’umumi lafdzi la bi khususi as-sabab, atau konsep qoth’i dan dzanni yang berdasakan pada kejelasan arti ayat. Sekalipun dalam Ulumul Qur’an terdapat disiplin asbabu an-nuzul, namun disiplin ini kurang berkembang.

Model pembacaan diatas memiliki kelemahan, pertama, karena hanya mendasarkan pada asumsi satra yang keliru. Tteks dianggap dapat menyampaikan face value atau makna sepenuhnya seperti kemauan pengarang, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya, seperti sosial-budaya yang melatar belakanginya. Bagaimana bunga mawar bisa berarti tanda cinta? Bila kita tidak tahu konteksnya. Kedua, mendasarkan pada asumsi teologis yang salah, bahwa bahasa arab adalah bahasa Tuhan. Padahal Allah adalah mutakallimu (Dzat Yang Maha Berbicara), ia tidak bisa dibatasi dalam bahasa manusia, atau lebih sempit lagi bahasa Arab.

Kelemahan metodologi dan yang berakibat pada tafsir agama yang diskriminatif pada perempuan itu, telah mengundang para sarjana Muslim, seperi Abed al-Jabiri, Mahmud Mohammed Thoha, Ahmad An-Na’im, Mohammad Syahrour, Mohammad Arkoun, Nazr Hamid Abu Zaed, Fatima Mernisi, Amina Wadud Muhsin, Masdar Farid Mas’udi, dll, untuk melakukan pembacaan ulang terhadap metode dan teks-teks keagamaan. Pendekatan baru ini menggunakan ilmu’ilmu modern, seperti sosilogi, antorpologi, hermenautika maupun semiotika. Sehingga lahirlah metode baru pemahaman al-Qur’an yang adil gender, tentang bagaimana cara membaca teks-teks keagamaan yang tidak adil gender harus dibaca. Berikut ini adalah beberapa cara/motode baru terebut, sebagaimana yang dikutib dari Mohammad Yasir Alimi dalam bukunya ”Jenis Kelamin Tuhan”;

1.Maksud Nash bukan hanya bunyi teks, melainkan juga meliputi konteks. Demikian tegas as-Suyuti, seorang ulama terkemuka. Karenanya dalam ilmu tafsir terdapat disiplin ilmu asbab an nuzul, yaitu ilmu yang melatar belakangi turunnya al-Qur’an. Selain itu juga terdapat disiplin ilmu nasakh-mansukh, yaitu ilmu tentang penghapusan atau penundaan suatu teks tertentu oleh teks lainnya. Penundaan ini sangnat berkaitan dengan konteks dan kebutuhan masyarakat atau ketika sebuah teks telah kehilangan relevansinya. Hanya saja dalam studi Islam kedua pendekatan ini kurang mendapat perhatian.

Al-Qur’an yang berlatar belakang sosial-politik-budaya dapat dilihat dalam empat aspek, pertama bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sebagai bahasa masrakat tempat diturunkannya al-Qur’an. Bahasa adalah fenomena kesejarahan yang paling besar. Kedua, penggambaran tentang kehidupan yang baik, semuanya berdasarkan pada contoh kehidupan masyarakat Arab. Ketiga, al-Qur’an diturunkan dalam dua babak yang berbeda yaitu Makiyah dan Madaniyah. keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Keempat, al-Qur’an diturunkan dalam jangka waktu yang cukup panjang, yaitu tidak kurang dari 23 tahun. Kelima, nash-nash al-Qur’an menentang berbagai persoalan khas masyarakat Arab. Misalnya soal hak wari perepuan.

2.Menempatkannya sebagai strategi tasyri’. Kerja transformasi yang efektif tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Karenanya, nash-nash al-Qur’an diturunkan secara bertahap (tadarruj). Penetapan yang demikian dipandang sebagai strategi, bukan tujuan penetapan hukum. Teks-teks al-Qur’an yang mensubordinasikan perempuan, menurut Mahmoud Mohamad Thoha, dalam bukunya ar-Risalah as-Saniyah, merupakan strategi tasyrik dalam menghadapi masa transisi masyarakat Arab dari struktur masyarakat yang totalitarian dan tidak adil gender pada masyarakat yang demokratik adil gender.

3.Memahaminya sebagai pernyataan kontekstual, bukan pernyataan normatif. Menurut Asghar Ali Engineer dalam bukunya The Right of Islam, penggambaran peran perempuan yang subordinatif dalam nash merupakan respon , sekaligus sebagai gambaran situasi sosial saat itu. Teks-teks itu sebaiknya dipandang sebagai khabar atau pernyataan kontekstual, yang bersifat kasuistik, dan bukan sebagai pernyataan normatif yang harus diikuti sepanjang masa.

4.Menempatkannya sebagai nash-nash intrumental (dzanni), bukan sebagai nash-nash fundamental (qath’i). (Masdar) Menurut ilmu bahasa, makna terbangun dari jaringan tanda dan bukan berasal dari satu tanda saja atau keinginan pengarang. Sedangkan menurut ilmu tafsir, ayat-ayat al-Qur’an saling bermunasabah atau berkaitan dengan ayat-ayat lainnya. Teks-teks al-Qur’an selalu ditandai oleh adanya perjuangan menuju kesetaraan dan keadilan. Ayat-ayat inilah yang dikategorikan sebagai nash qoth’i (qot’i ad-dalalah). Ayat ini jumlahnya lebih sedikit, namun memuat hal yang prinsip, bercorak demokratik dan egaliter. Sementara ayat-ayat yang diturunkan dalam rangka menghadapi masa transisi dikategorikan sebagai nash dzanni (dzonni ad-dalalah) yang boleh menimbulkan tafsiran lebih dari satu. Ayat ini berjumlah banyak dan hadir dalam kerangka sosial budaya dalam ruang dan waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan simbolik nash qoth’i dan kadangkala bercorak sektarian-diskriminatif.

5.Menempatkannya dalam kerangka nasakh dan masukh. (Mahmoud Mohammad Thoha dan Abdullah Ahmed An-Naim). Ayat al-Qur’an diturunkan dalam du babak dan karenanya dibagi dalam dua babak itu, yaitu ayat Makiyah dan Madaniyah. Ayat Makiyah ditandai oleh sikap pemikiran keagamaan yang universal-egalitarian-demokratik. Sementara ayat-ayat Madaniyah ditandai oleh sikap pemikiran yang partikularistik-sektarian-diskriminatif. Ini terjadi karena di Madinah Islam dihadapkan pada kasus-kasus masyarakat Madinah yang kompleks. Menurut prinsip nasakah-mansukh, suatu ayat dapat dimansukh atau ditunda pemberlakuannya bilsa tidak relevan lagi dengan kondisi zaman. Hukum nasakh ini bisa berlaku surut, tidak seperti dalam tafsir klasik.

6.Menempatkannya dalam kerangka teks Primer dan teks skunder atau teks mu’asis dan teks at-tafsiri. (Mohammad Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zaid). Dalam al-Qur’an, terdapat dua jenis teks, yaitu teks primer dan skunder. Teks primer atau teks mu’asis merupakan teks-teks utama yang menegaskan prinsip fundamental yang permanen dan oleh karenanya harus dihormati. Teks ini menegaskan keadilan, pembelaan HAM, ubudiyah dan aqidah. Sedangkan teks skunder atau teks penafsir adalah teks-teks yang keberadaanya berfungsi untuk menjelaskan prinsip-prinsip fundamental tek-teks primer dengan mempertimbangkan kebutuhan sosial masyarakat tertentu pada periode tertentu.

7.Menempatkannya dalam makna yang tersebut dan makna yang tidak tersebut. (Nasr Hamid Abu Zaid). Dalam kategori sastra makna memiliki dua kategori, yaitu makna tersebut dan tak tersebut. Makna yang tidak disebut merupakan the significance, yaitu tujuan yang ingin dicapai dan semangat yang mendasari suatu teks atau nash. Misalnya ayat poligami, tujuan fundamentalnya adalah pembebasan perempuan dari praktek perkawinan yang merugikan mereka dan penciptaan keadilan sosial dalam ruang keluarga.

Menempatkannya dalam kerangka bahwa al-Qur’an bukan keseleruhan wahyu. (Herenautika). Nasr Abu zaid menginatkan bahwa al-Qur’an bukanlah keseluruhan wahyu. Al-Qur’an secara berulang-ulang menegaskan bahwa ia diturunkan dalam bahasa Arab yang indah dan Allah telah memilih Muhammad agar menyampaikan pesan-Nya pada manusia, memperkenalkan konsep tentang risalah pada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa “isi” al-Qur’an berbeda atau tidak sekedar ekspresi bahasanya. Sebagai suatu risalah Islam bukanlah agama baru, “Allah telah menurunkan kepadamu agama seperti apa yang telah Kami wasiatkan kepada Nuh, dan apa yang kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa (QS. As Syura’:13). Pemakaian bahasa Arab ini bukan berarti bahasa Allah adalah bahasa Arab, tapi sekedar karena bahasa Arab adalah bahasa asyarakat tempat di mana wahyu diturunkan dan nabi diutus. “kami tidak pernah mengirim utusan kecuali dengan bahasa masyarakatnya, sehingga pesan itu menjadi jelas bagi mereka”. (QS. Ibrahim: 4). Oleh karenanya al-Qur’an tidak merepresentasikan secara literal dan eksplisit keseluruhan wahyu Allah. Bahasa Allah tidak hanya terbatas dalam al-Qur’an saja, karena bila terbatas dalam al-Qur’an saja dan bahasa Arab saja, maka bagaimana dengan firman-firman Allah sebelumnya. Al-Qur’an hanyalah salah satu manifestasi firman Alla yang diturnkan pada Muhammad melalui malaikat Jibril. Karenanya kandungan al-Qurna dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu; isi, bahasa dan struktur. Al-Qur’an merupakan ekpresi linguistik risalah yang sifatnya kultural dan historis.

One thought on “Rekonstruksi Metodologi Tarfisr Al-Qur’an Yang Adil Gender

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s