Kekerasan Terhadap Perempuan Memicu HIV/AIDS

Oleh: Saeroni

Hingga saat ini masih banyak orang yang menganggap bahwa HIV/AIDS sebagai masalah yang hanya dialami oleh orang yang mempunyai perilaku seksual menyimpang, para pendosa dan pengguna narkoba. Akan tetapi perkembangan kasus HIV/AIDS belakangan ini semakin banyak dialami oleh mereka yang dianggap aman dan tidak beresiko HIV/AIDS. Data dari RS Dr. Sutomo menunjukkan bhwa ibu hamil yang terinfeksi HIV berjumlah sekitar 3%, bahkan banyak ditemukan angka infeksi menular seksual yang tinggi pada perempuan non-PSK (Pekerja Seks Komersial), seperti ibu rumah tangga dan remaja putri (Kompas: 23/3/2006).

Di seluruh dunia jumlah pengidap HIV/AIDS ini terus meningkat, bahkan kini terjadi penyebaran yang lebih cepat dikalangan perempuan. Data dari UNAIDS menunjukkan bahwa pada tahun 2002 terdapat 36,6 juta orang dengan HIV/AIDS (Odha) di seluruh dunia menjadi 39,4 juta orang pada tahun 2004 dimana 47%-nya adalah perempuan dan proporsi ini terus meningkat. Dari 16.000 infeksi baru yang terjadi setiap hari, 60% terjadi pada perempuan. Dari 17,5 juta Odha yang meninggal, 52%-nya ialah perempuan Di Afrika Selatan sebanyak 60% kasus HIV/AIDS terjadi pada perempuan dengan prevalensi di setiap 10 orang laki-laki yang mengidap HIV, terdapat 13 perempuan yang juga mengalami HIV positif. Demikian halnya dengan Thailand, sebanyak 40% perempuan berstatus menikah dan monogami tertular HIV di dalam pernikahan mereka dan 90% diantaranya merupakan penularn HIV dari suami kepada istri. (Jurnal Perempuan No. 43, 2005).

Di Indonesia sendiri, data Direktorat Jenderal Pemberatasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM-PL) Departemen Kesehatan RI menyebutkan bahwa dari 1 April 1987 hingga 30 September 2006 di Indonesia terdapat 11.604 kasus HIV/AIDS (4.617 HIV dan 6.987 AIDS) dengan jumlah 1.240 kasus AIDS yang dialami perempuan. Mayoritas pengidap AIDS berusia 20-29 tahun (56,7%), 30-39 tahun (27,5%), 40-49 tahun (8,3%), 15-19 tahun (3,1%) bahkan ada yang berusi dibawah satu tahun (0,47%) dan dibawah 5 tahun (0,7%) (Dirjen PPM-LP Depkes RI, 2006). RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangun Kusuma) juga melaporkan bahwa hingga Desember 2004, pengidap HIV/AIDS yang ditangani Pokdisus AIDS FKUI/RSCM mencapai 635 kasus, dan 82 diantaranya (12,9%) adalah perempuan dengan rentang usia 15-53 tahun, dan 76,8% dari mereka telah menikah, sementara 35,4% berstatus ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah. (JP No. 43, 2005).

Data Ditjen PPM-PL Depkes RI juga menunjukkan bahwa modus utama penularan HIV/AIDS di Indonesia adalah melalui hubungan seksual, baik itu heteroseksual (40,4%) maupun homoseksual (4%), penggunaan jarum suntik (42,7%), transmisi prenatal (1,1%), tranfusi darah (0,05%) dan selebihnya tidak dikethui (9,7%) dan tidak terlaporkan (1,9%). Mayoritas pengidap AIDS adalah mereka yang berusia antara 20-29 tahun (56,7%), 30-39 tahun (27,5%), 40-49 tahun (8,3%), 15-19 tahun (3,1%), 50-59 tahun (2,2%), bahkan ada yang berusia dibawah 1 tahun (0,47%), dan dibawah 5 tahun (0,78%) (Dirjen PPM-LP Depkes RI, 2006).

Fakta di atas menunjukkan bahwa perempuan yang aktif secara seksual dan menikah adalah kelompok perempuan yang paling rentan. Hal ini juga menunjukkan betapa riskannya perilaku seksual laki-laki yang berganti-ganti pasangan secara diam-diam. Sebuah perilaku yang banyak terjadi dimasyarakat sebagai akibat dari konstruksi sosial di masyarakat yang cenderung menerima sikap laki-laki yang memiliki banyak pasangan. UNAIDS menyebutkan bahwa penyebab meningkatnya jumlah perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS adalah karena terjadinya ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender yang menyebabkan perempuan tidak bisa memilih dengan siapa dia menikah; kapan, dengan siapa dan bagaimana dia melakukan hubungan seksual. Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender ini menyebabkan terjadinya relasi yang tidak seimbang antara suami dan istri sehingga perempuan tidak bisa menolak atau tidak bisa meminta suaminya menggunakan kondom ketika memaksakan hubungan seksual yang tidak aman. Bahkan perempuan juga cenderung tidak bisa menolak hubungan seksual meskipun ia mengetahui bahwa suaminya memiliki hubungan dengan sejumlah perempuan lain di luar perkawinannya.

Salah satu manifestasi dari ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender tersebut adalah kekerasan terhadap perempuan berbasis gender (KTPBG). Diseluruh dunia diperkirakan antara 13 hingga 61 % perempuan yang pernah menikah atau memiliki pasangan pernah mengalami kekerasan fisik dari pasangannya. Sejumlah 6% (Jepang, Serbia, Montenegro) hingga 59% (provinsi Ethiopia) perempuan pernah mengalami kekerasan seksual dari pasangan intimnya. Sementara antara 15% hingga 71% perempuan pernah mengalami kekerasan fisik maupun seksual atau kedua-duanya dari pasangan intimnya. (Moreno, et.al, WHO: 2005).

Di Indonesia sendiri prevalensi kekerasan terhadap perempuan diperkirakan sekitar 11 \% perempuan yang pernah menikah pernah mengalami kekerasan fisik dari pasangannya (IDHS: 2003). Bahkan penelitian SEHATI di Purworejo memperkirakan 27% atau 1 dari 4 perempuan yang pernah menikah pernah mengalami kekerasan fisik maupun seksual dari suaminya dalam suatu waktu dalam hidupnya. Lebih banyak perempuan yang melaporkan mengalami kekerasan seksual (20%) dibandingkan dengan kekerasan fisik (11%), sedangkan 34% atau 1 dari 3 perempuan mengalami kekerasan psikis dari suaminya. (Hakimi, dkk. 2001). Sementar ILO memperkirakan setiap tahunnya lebih dari 10 ribu anak dibawah usia 18 tahun bekerja sebagai pekerja seks di lima kota besar di Indonesia (IRRMA; 2004).

Tingginya angka kekerasan seksual terhadap perempuan ini tentu saja sangat mengkhawatirkan bagi penyebaran HIV/AIDS yang semakin banyak dialami oleh perempuan. Studi WHO tentang KTP (kekerasan terhadap perempuan) dan HIV/AIDS menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan fisik dari pasangan hidupnya lebih rentan terhadap infeksi HIV dibandingkan dengan perempuan dalam keluarga tanpa kekerasan. Perempuan yang secara emosional didominasi pasangannya cenderung terkena infeksi HIV, hingga 52% lebih tinggi di Afrika. Resiko terinfeksi HIV/AIDS tinggi pada anak perempuan yang menjadi yatim piatu karena orang tuanya penderita AIDS. Di Zambia mereka menjadi anak-anak tanpa harapan dan tanpa dukungan emosional dan finansial. Bahkan banyak anak yang menjadi yatim piatu karena epidemi AIDS mengalami pelecehan seksual oleh keluarga besarnya, atau orang yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup anak-anak tersebut. Studi di berbagai negara tentang pengalaman seksual remaja, hubungan seksual pertama kali dilakukan karena terpaksa (Saparinah Sadli, 2006).

Kerentanan perempuan tertular HIV/AIDS ini juga karena struktur biologis perempuan, terutama organ reproduksinya yang tersembunyi dan tidak mudah terdeteksi bila ada keluhan. Selain itu juga organ reproduksi perempuan memiliki selaput mukosa yang luas, mudah luka atau iritasi, sehingga bila terjadi penetrasi penis dengan keras atau paksaan ataupun dengan IMS (infeksi menular seksual) akan lebih memudahkan terjadinya penularan. Terlebih lagi jumlah virus HIV di dalam sperma juga lebih banyak dibandingkan jumlah virus HIV di dalam cairan vagina, sehingga perempuan sebagai pihak penampung seperma lebih besar kemungkinannya untuk terinfeksi.

Kondisi ekonomi juga mendorong perempuan ke dalam perilaku yang beresiko tinggi seperti menjadi PSK (pekerja seks komersial), terjebak dalam perkawinan yang penuh kekerasan, menjadi korban trafficking, merupakan kondisi-kondisi yang menjerumuskan perempuan dalam hubungan seksual dengan laki-laki yang HIV positif tanpa perlindungan.

Kondisi psikologis perempuan seperti, rasa takut pada reaksi pasanganya atau keluarganya menyebabkan bahwa perempuan terinfeksi HIV tidak berani memeriksakan dirinya. Langkanya pelayanan kesehatan reproduksi bagi perempuan dalam kondisi konflik/bencana atau pasca konflik/bencana membuat perempuan rentan terhadap infeksi HIV.

Mengingat bahwa kekerasan terhadap perempuan semakin diakui sebagai pendorong terjadinya epidemi HIV/AIDS, maka perlu adanya sutu strategi baru untuk menghentikan KTP dan mengurangi infeksi HIV dan AIDS pada perempuan, diantaranya melalui;

Pelibatan laki-laki dalam mengehentikan KTP dan HIV/AIDS dan persepsi laki-laki sendiri tentang maskulinitasnya dan pemahamannya tentang bagaimana hal tersebut berkontribusi pada KTP dan transmisi HIV perlu diberi perhatian.

Melakukan advokasi dan informasi tentang kaitan antara KTP dan HIV/AIDS dengan tujuan memberdayakan perempuan dalam melakukan hubungan seksual dan memperoleh hak-hak dan kesehatan seksual dan reproduksinya.

Meningkatkan kualitas layanan kesehatan, terutama di kamp-kamp pengungsian yang mempertimbangkan kemungkinan meningkatnya KTP dan kerentanan perempuan terhadap KTP dan infeksi HIV/AIDS.

Perlunya sosialisasi tujuan MDGs yang mencantumkan tentang penyebaran HIV dan AIDS serta penyakit menular lainnya sebagai salah satu tujuan yang harus dihentikan pada tahun 2015 dalam rangka memerangi kemiskinan dan kelaparan mejadi separuh dari kondisi nasional. (Saparinah Sadli, 2006).

3 thoughts on “Kekerasan Terhadap Perempuan Memicu HIV/AIDS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s