Poligami: Masalah Penafsiran Agama

Agama bisa berfungsi sebagai pembebas, namun juga bisa menjadi pembelenggu bagi pemeluknya. Semua itu tergantung pada bagaimana manusia memahami dan mengamalkannya.

Agama dalam dirinya sendiri memang bersifat suci dan sakral (keramat), berasal dari Tuhan yang Maha Suci, Maha Benar dan yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Kebenaran dan kesucian agama yang berasal dari Tuhan bersifat mutlak. Tak terbantahkan!!! Tetapi ketika agama telah diturunkan pada manusia, sifat kekekalanya berubah, mensejarah, mengikuti hukum dunia yang terus berubah, seiring dengan perjalanan ruang dan waktu. Sehingga pemahaman manusia terhadap agamapun berubah, berkembang mengikuti perkembangan waktu dan zaman.

Karenanyalah pemahaman agama ada yang bersifat tersirat dan tersurat. Pemahaman agama yang tersurat sebagaimana yang dipahami dari kalimat-kalimat dalam kitab-kitab suci keagamaan, sebagai firman dan kalam Tuhan. Sedangkan yang tersirat merupakan hasil penalaran atas firman dan kalam Tuhan tersebut. Sehingga tidak heranlah bila dalam pemahaman keagamaan kita temukan adanya perbedaan penafsiran mengenai Poligami.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa poligami diperbolehkan atas dasar ayat Al Qur’an QS, al Nisa’: 3, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila kamu mengawininya), maka nikahilah perempuan-perempuan lain yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. Jika dilihat sepintas, secara tersurat, ayat tersebut seolah-olah membolehkan poligami. Namun bila diperhatikan lebih lanjut sebenarnya ayat tersebut jelas menyebutkan monogami lebih dekat pada tidak aniaya, dan poligami membawa laki-laki dekat dengan berbuat aniaya. Banyak kekerasan terjadi pada perempuan dan anak-anak karena kasus poligami ini.

Pendapat yang mengatakan bahwa agama Islam sesungguhnya lebih menekankan monogami ini diperkuat oleh ayat al Qur’an yang lain QS. Al Nisa: 129, yang menyatakan bahwa, “Dan kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung….” Pandangan ini juga didukung oleh kenyataan sejarah bahwa ayat tersebut turun bukan untuk membolehkan poligami, tetapi lebih untuk mencegah terjadinya pernikahan seorang perempuan yatim yang akan dinikahi oleh wali yang membesarkannya karena tertarik pada kecantikan dan hartanya, sebagaimana diepakati oleh para mufassir dan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasai, Baihaqi dan Urwah Ibn Zubair.

Pendapat kedua ini juga selaras dengan semangat kedatangan Islam sebagai agama pembebasan bagi umat manusia. Karena jelas, Islam menekankan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan dihadapan Tuhan. Namun demikian Islam juga memiliki keterbatasan-keterbatasan duniawi, yang terkait dengan adat kebiasaan dan lokalitas masyarakat Arab sebagai tempat kemunculan Islam. Tetapi jelas, Islam melakukan berbagai proses evolusi bagi terciptanya keadilan dan kesetaraan diantara umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Makna inilah yang tersurat dari penalaran dan pemahaman terhadap agama dan kesejarahan manusia.

Jikalau demikian halnya, tentu pandangan yang kedua inilah yang lebih mendekati semangat agama sebagai pembebas, karena lebih menekankan rasa keadilan dan kesetaraan bagi umat manusia. Bukannya agama malah menjadi pembelenggu karena cenderung merugikan dan menempatkan perempuan tidak lebih setara dengan laki-laki, sebagaimana pendapat pertama yang membolehkan poligami. (Roni)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s