//
you're reading...
Opini

Mewaspadai Kekerasan Seksual Pada Anak Perempuan :

(5,4 hingga 7,8 juta anak perempuan Indonesia terancam alami kekerasan seksual)

Oleh : Saeroni*)

“Anak adalah masa depan dan harapan bangsa”, begitu kata para cerdik cendekia tentang betapa pentingnya memperhatikan masalah anak. Oleh karenanya kebutuhan anak harus diperhatikan dan dipenuhi hak-haknya, karena masa kanak-kanak adalah masa pertumbuhan, apa-apa yang terjadi pada masa pertumbuhan ini akan sangat berpengaruh bagi perkembangan anak selanjutnya hingga ia dewasa. Namun apa jadinya bangsa ini, jika ¼ dari anak-anak perempuannya menjadi korban kekerasan seksual? Tentu saja masa depan bangsa juga terancam, karena kekerasan yang dialami pada masa kanak-kanak seringkali berimplikasi sangat panjang, bahkan hingga ia dewasa kelak.

Berbagai penelitian di dunia menunjukkan bahwa prevalensi kekerasan seksual terhadap anak cukup tinggi antara 1 hingga 21 % perempuan pernah mengalami kekerasan seksual di saat mereka berusia dibawah 15 tahun. (Moreno dkk., 2005). Sementara di Indonesia sendiri diperkirakan antara 17 hingga 25 % anak perempuan pernah mengalami kekerasan seksual. Hal ini sesuai dengan hasil survei SEHATI pada tahun 2002 tentang kekerasan dalam rumah tangga yang menunjukkan bahwa 17 % perempuan yang diwawancarai mengaku pernah mengalami kekerasan seksual pada usia dibawah 15 tahun (Hakimi dkk., 2002). Sedangkan Survei yang dilakukan UNICEF Pada tahun 2002 di NTT menunjukkan bahwa 2/3 anak laki-laki dan 1/3 anak perempuan pernah dipukul. Sementara lebih dari ¼ anak perempuan yang disurvei mengatakan pernah diperkosa. (Tampubolon dkk. 2002). Sementara populasi perempuan di Indonesia berjumlah sekitar 112,7 juta, 28% diantaranya adalah anak perempuan berusia dibawah 15 tahun (Population Reference Bureau, 2004). Angka ini berarti bahwa 5,4 juta hingga 7,8 juta anak perempuan di Indonesia terancam mengalami kekerasan seksual.

Sekalipun prevalensi kekerasan seksual terhadap anak perempuan cukup tinggi, namun masih sedikit sekali yang terungkap dipermukaan. Pada tahun 2005 data Komisi Nasional Perlindungan Anak tahun 2005 mencatat adanya 731 kasus kekerasan terhadap anak, meliputi kekerasan fisik, psikis maupun seksual, dengan kecenderungan kenaikan kasus hampir 100% dari tahun sebelumnya disertai peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Sementara Data kasus kekerasan terhadap perempuan yang masuk ke Rifka Annisa tahun 2000 s/d 2005 menunjukkan adanya 157 kasus kekerasan terhadap anak perempuan, 139 (88,5%) kasus diantaranya adalah kasus kekerasan seksual, 54% atau 1 dari 2 kasus perkosaan yang terjadi sejak tahun 2000 hingga 2005 adalah perkosaan terhadap anak. (Rifka Annisa, 2005)

Kekerasan seksual merupakan kekerasan yang paling mengerikan karena jenis kekerasan seksual ini biasanya diiringi oleh beberapa bentuk dan jenis kekerasan yang lain, seperti kekerasan fisik, sosiologis maupun psikologis. Ironisnya lagi para pelaku kekerasan seksual terhadap anak seringkali adalah orang dekat atau orang-orang yang telah dikenal baik oleh korban. Seperti tetangga, saudara, guru, bahkan juga orang tua korban, baik itu ayah kandung, ayah tiri, ayah angkat maupun kakek korban. Data kasus yang masuk ke Rifka Annisa sejak tahun 2000 hingga 2005 menunjukkan bahwa 1 dari 6 kasus perkosaan adalah kasus Incest, yaitu kekerasan seksual atau perkosaan yang dilakukan oleh keluarga sedarah ataupun keluarga yang tinggal dalam satu rumah tangga, seperti ayah kandung, saudara kandung, paman, kakek, ayah tiri, keponakan, dan lain-lain.

Dalam kasus kekerasan seksual terhadap kanak-kanak, seringkali kasusnya berulang dan baru terungkap ketika dewasa; ketika mereka akan memasuki gerbang pernikahan atau ketika mereka mengalami disfungsi atau gangguan seksual akibat trauma yang dialaminya. Hal ini berkaitan dengan pelaku yang lebih banyak justru berasal dari kalangan dekat yang menyebabkan korban takut mengungkapkan kasusnya. Hasil penelitian Rifka Annisa menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan seksual akan mengalami trauma jangka panjang yang beragam bentuknya (disfungsi seksual, immature sexual active, menarik diri dari lingkungan, dsb). Dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak yang pelakunya adalah orang dekat, seringkali anak membutuhkan penanganan yang komprehensif dan berjangka panjang. Menghukum pelaku saja juga tidak cukup menyelesaikan masalah. Keberadaan korban untuk tetap dalam rumah tangga atau tinggal serumah dengan pelaku akan mempersulit proses penyembuhan trauma yang dialami anak. Namun demikian mengeluarkan anak dari lingkungan sosialnya juga sulit dilakukan. Sementara proses recovery korban, agar dia dapat pulih secara mental dan sosial sama sekali belum mendapatkan perhatian.

Hasil monitoring yang dilakukan oleh IRRMA (Indonesian Reproductive Health and Right Monitoring and Advocasi) region DI. Yogyakarta dan Jawa Tengah tentang Kekerasan Seksual Terhadap Anak Perempuan menunjukkan perhatian publik terhadap masalah tersebut masih rendah. Masyarakat masih cenderung menyalahkan korban jika anak berusia diatas 12-15 tahun, karena dianggapnya telah dewasa dan mampu bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Masyarakat masih menganggapnya sebagai aib sehingga penyelesaian yang ditawarkan seringkali tidak berpihak pada korban. Dalam kasus incest, keluarga seringkali justru menutupi masalah sebenarnya, sehingga trauma yang dialami korban justru bekepanjangan karena ia harus terus menerus berhadapan dengan pelaku dalam satu rumah.

Sistem perlindungan hukum juga yang lemah; adanya perbedaan kategorisasi usia anak, tidak adanya standarisasi pelaporan kasus dan perbedaan tuntutan antara KUHP dan UUPA (Undang-undang Perlindungan Anak). UUPA yang disahkan sejak tahun 2002 juga belum diimplementasikan secara penuh, karena tidak terinformasikannya secara luas diantara penegak hukum. Sekalipun tuntutan maksimum UUPA lebih tinggi daripada KUHP, namun hal pembuktian kasusnya lebih sulit pada UUPA. Demikina pula dengan hakim dan jaksa, mereka jarang sekali menjatuhkan tuntutan maksimum pada pelaku.

Pada aspek pelayanan, implementasikan kebijakan pelayanan telahmeningkatkan ketersediaan pelayanan bagi korban kekerasan seksual terhadap anak perempuan. Sekalipun demikian, kualitas pelayanan secara umum masih belum meningkat, karena pejabat pemerintah, penyedia layanan kesehatan, penegak hukum dan pemuka masyarakat kurang masih memberikan perhatian terhadap persoalan kekerasan seksual terhadap anak perempuan. (IRRMA Region DIY & Jateng, 2004). Dalam kasus incest, misalnya, yang membutuhkan penanganan khusus, ternyata belum tersedia shelter atau pelayanan yang berjangka panjang bagi mereka.

Melihat begitu kompleksnya masalah kekerasan seksual terhadap anak perempuan, sudah seharunya kita semua memberikan perhatian yang besar terhadapnya. Mengabaikan masalah tersebut berrarti pula mengabaikan masa depan bangsa, karena sebagaimana diungkapkan di atas, masa depan anak adalah masa depan bangsa. Membiarkan masalah tersebut tidak tertangani berarti membiarkan 5 hingga 7 juta anak Indonesia hidup dalam rasa ketakutan dan trauma akan kekerasan. Lalu bagaimana dengan masa depan mereka? Bagaimana pula dengan generasi selanjutnya yang dilahirkan oleh anak-anak korban kekerasan tersebut, bila tidak dicegah dan tidak ditangani dengan baik? Tentu kita semua tidak ingin anak-anak kita menjadi ”the lost generation” karena mengalami kekerasan seksual, bukan?

*) Penulis adalah peneliti di Rifka Annisa, Yogyakarta.

Diskusi

6 thoughts on “Mewaspadai Kekerasan Seksual Pada Anak Perempuan :

  1. sangat baik

    Posted by amelia | November 2, 2009, 8:03 am
  2. baik dan sehat

    Posted by amelia | November 2, 2009, 8:05 am
  3. mo tanya kepanjangannya SEHATI apa yah ?????
    thanks….

    Posted by yuriko | Januari 8, 2010, 5:12 am
    • SEHATI itu nama program penelitian tentang Status kesehatan dan gizi ibu serta bayi, yang dilakukan oleh LPKGM-UGM, Rifka Annisa, Umea University dan Women’s Health Exchange, USA tentang “kekerasan terhadap Istri dan kesehatan perempuan di purworejo Jawa Tengah”. terimakasih

      Posted by saeroni | Januari 11, 2010, 2:42 am
  4. Rifka annisa, apakah semacam LSM? Bergerak di bidang apa?

    Posted by Dwi kurniawati | Februari 25, 2010, 10:57 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Menu

Blog Stats

  • 13,152 hits

Twiter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Visitor Location

Statistik Blog

  • 13,152 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.116 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: